Postingan

Dev

 "Dev, masih suka nonton anime nggak? " tanya seorang gadis sambil membenarkan tatanan poninya.  "Masih, kenapa, Ra? " jawabnya. "Mau dong rekomendasi anime yang bagus," ucap sang gadis.  "Tumben banget", Pemuda bernama Dev itu mengernyitkan dahi sembari menatap sang gadis serius.  "K-kenapa? " tanya sang gadis sedikit gugup ditatap seperti itu. "Setahu aku, kamu nggak suka anime, Ra. Aneh aja, sekarang kamu mendadak mau nonton anime" Gadis itu tersenyum, "Ara suka kok, nanti Ara mau maraton deh" Pemuda itu menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Ra, aku tahu banget kamu. Jangan paksain kamu harus jadi sama kayak apa yang aku suka. Karena sekarang kita emang udah berbeda, dan nggak bisa balik kaya dulu lagi" "Aku tahu kamu. Kita kenal udah lama. Berhenti buat maksain keadaan, ya? Karena sekuat apa pun kamu mau bikin kita balik, kalau takdir nggak mengizinkan, itu semua percuma, Ra. A...

An Art Galery #1

Suasana hatiku sore ini kacau sedari aku menghadapi kenyataan bahwa aku tidak bisa menyaksikan pembukaan Art Exhibitions di kampusku karena harus menghadapi UAS dari pagi sampai sore yang menyebalkan. Padahal kan ini acara cukup besar, event tahunan yang sangat ditunggu-tunggu mahasiswa dalam dan luar kampus.  “Aku langsung kesana aja deh, pasti seru banget, ya walaupun udah telat ngga liat pembukaan sih. Gapapa deh” Ucapku akhirnya memutuskan untuk ke sana sendirian.   Sebenarnya tidak masalah juga jika tidak melihat pembukaan pameran nya, tapi rasanya seperti sedikit kurang afdhol saja. Jarak antara kelasku dengan gedung itu tak terlalu jauh, hanya saja jalanannya yang biasanya lumayan sepi kini terlihat ramai. Karena letaknya cukup jauh ada di belakang membuat para mahasiswa enggan untuk berjalan kesana bila tak ada keperluan mendesak kecuali jika ada event seperti ini. Sampai di sana, nampak dari luar ada beberapa bentuk tokoh wayang yang di jajarkan di kedua sis...

Everything Looks Different

 Aku termenung di bawah lampu temaram, di temani oleh seorang teman yang selalu sedia meluruskan. Dalam diam kami terduduk dengan pikiran masing-masing, dia yang entah memikirkan apa dan aku yang sedang memikirkan hal menakutkan seperti 'cinta'. "Ra, lo mau gue bawa ke dukun?" sebuah pertanyaan tidak masuk akal yang terlontar dari bibir tipis seorang gadis bernama Naya. Aku menarik napas panjang, "Buat apa ke dukun? Gue nggak butuh dukun, Nay. Yang gue butuh cuman Ilham sekarang." Dia terlihat geram, "Nah ini nih yang bikin gue sampai mau bawa lo ke dukun.Gue itu mau ngecek pelet apa soh yang di pakai sama Si Ilham sampai lo seginnya sama dia." Aku terkekeh hambar, "No,itu  nggak perlu. Ilham nggak pakai pelet apapun, okay? Gue juga nggak tau bisa sampai sesuka ini gue sama dia, sampai-sampai gue seakan nggak punya alasan buat nggak mikirin dia, Nay." Kini Naya tengah menatapku intens, aku tak menatapnya dan masih terfokus ke satu arah. ...

if i ...

  Aku sedikit terkejut saat melihat kotak berwarna biru muda berasa di depan jendela kamarku.  Di balut dengan rasa penasaran, aku mendekatinya. Sudah lama rasanya kotak berbentuk kubus kecil ini tak ku lihat lagi setelah malam itu. Ku buka jendela lalu ku bawa masuk kotak tersebut. Dengan sedikit ragu aku membukanya, dan melihat isi di dalamnya.  Secarik kertas berwarna putih tersimpan apik di sana, ku buka perlahan dan membaca tinta hitam di dalamnya.  "Hey, gue cuma mau ngasih tau ke lo kalo gue masih sayang sama lo... Tapi tenang aja, gue ngga bakal gangguin lo lagi kok setelah ini.  Oh iya gue lihat lo lebih bahagia ya sekarang, dari pada sebelumnya. makasih udah ngelihatin ke gue kalo lo bisa bahagia tanpa gue, gue jadi seneng liatnya.  Jangan berhenti bahagia ya cantik, ily. I just want to say, sorry if I ever came into your life and ruined everything." Setitik air mataku lolos meluncur di pipi, kenangan itu muncul bersamaan dengan bagian bagaimana c...

"Her" Mental Breakdown.

Hari hari berlalu semakin kelabu, mendung selalu merayu disaat hilal honor masih abu-abu. Perasaan Kinan tak menentu, berkecamuk dengan rasa lelahnya mengurus pekerjaan yang sudah menumpuk selama seminggu. Ingin rasanya mengeluh, tetapi bukankah hal ini sudah ia dambakan bertahun-tahun yang lalu?  "Nan, udah tanda tangan belum?" Tanya Mbak Asri yang sedari tadi melihat Kinan gusar di depan meja kerja. "Tanda tangan apa mbak?" Dia pura-pura tidak tahu saja, padahal sedari tadi dia melihat banyak sekali rekan kerjanya wira-wiri ke ruangan sebelah untuk menandatangani diatas selembar kertas kemudian saat kembali mereka menggenggam satu amplop putih yang entah apa isinya, tetapi bisa dilihat dengan jelas raut wajah mereka menjadi terlihat sedikit berseri.  Mbak Asri menunjukkan amplop putih di tangannya, "Ini, sana, tadi aku lihat namamu." Ujarnya Kinan terlihat sedikit terkejut, "Aku dapet juga mbak?" Mbak Asri mengangguk, lalu menyuruhnya segera ke...

Dari Aku Yang Kecil

Hai, selamat malam teman-teman! Bagaimana kabar kalian? Sudah lama rasanya kita tidak bercengkrama melalui media ini. Everything goes well? Semoga selalu well ya…. Anyway, happy reading! ————— Dari Aku Yang Kecil.  Awal tahun 2025 ini, aku ditakdirkan untuk membersamai suatu sekolah untuk ‘simulasi mengajar’ selama hampir dua bulan. Sedari awal aku memang selalu menantikan momen ini, akhirnya tiba ketika aku sudah menginjak semester enam. Walau masih simulasi, aku harus dan akan tetap melakukannya dengan baik. Sejujurnya, dibalik penantian panjangku mengenai momen ini, banyak juga kekhawatiran yang menyelimuti. Dengan minimnya ilmu yang aku punya, aku takut masuk ke lingkungan sekolahan lagi, apalagi harus mengajar disana. Bagaimana jika siswanya tidak menyambutku dengan ekspresi yang ku harapkan? Bagaimana jika aku tidak memenuhi ekspektasi dari para pengajar disana? Bagaimana jika ilmu yang ku punya lebih sedikit dibandingkan dengan siswaku nanti? Dan, bagaimana bagaimana yang la...

Forelsket.

Forelsket. Forelsket; (n) The éuphoria you experience when first falling in love; Eu foria yang kamu alami saat pertama kali jatuh cinta. Sore hari duduk di bangku taman dibawah jembatan jalan baru yang menyejukkan. Aku dan Rae duduk bersampingan, sesekali kami saling lirik satu sama lain. Gemricik air sungai yang mengalir di tepi kiri nya menjadi backsound yang menenangkan. Hingga salah satu dari kami membuka suara, Aku, orang itu aku yang ingin mengutarakan hal yang sebenarnya sedari tadi mengganggu dalam benakku. “Rae, maafin aku ya. Harusnya aku udah paham kamu. Tapi entah kenapa perkataan temen kamu yang itu bikin aku ngga bisa berpikir jernih dan ngga nyaman banget. Aku jadi kebawa emosi.” aku mengatakan hal tersebut sambil menyerongkan tubuhku menghadap Rae lalu sedikit menunduk. Kemarin, kami sempat bertengkar hebat untuk yang kesekian kalinya. Di saat seperti itu, aku merasa sangat tidak nyaman dan merasa takut kalai kami akan saling menyerah begitu saja. Lagi lagi tentang kes...