An Art Galery #1

Suasana hatiku sore ini kacau sedari aku menghadapi kenyataan bahwa aku tidak bisa menyaksikan pembukaan Art Exhibitions di kampusku karena harus menghadapi UAS dari pagi sampai sore yang menyebalkan. Padahal kan ini acara cukup besar, event tahunan yang sangat ditunggu-tunggu mahasiswa dalam dan luar kampus. 

“Aku langsung kesana aja deh, pasti seru banget, ya walaupun udah telat ngga liat pembukaan sih. Gapapa deh” Ucapku akhirnya memutuskan untuk ke sana sendirian. 

Sebenarnya tidak masalah juga jika tidak melihat pembukaan pameran nya, tapi rasanya seperti sedikit kurang afdhol saja. Jarak antara kelasku dengan gedung itu tak terlalu jauh, hanya saja jalanannya yang biasanya lumayan sepi kini terlihat ramai. Karena letaknya cukup jauh ada di belakang membuat para mahasiswa enggan untuk berjalan kesana bila tak ada keperluan mendesak kecuali jika ada event seperti ini.

Sampai di sana, nampak dari luar ada beberapa bentuk tokoh wayang yang di jajarkan di kedua sisi pintu, dan beberapa kakak tingkat yang menjaga stand pembelian tiket disana. Oh ya, tiket masuknya hanya sepuluh ribu untuk satu kali masuk. 

“Permisi, Kak. Saya mau masuk ke dalam.” Ucapku pada salah satu kakak penjaga tiket. “Sudah beli tiketnya?” Aku mengangguk lalu menunjukkan tiketku padanya, dia memberi tanda pada tiketku lalu mempersilakan aku masuk kedalam. 

Aku tak berhenti tersenyum ketika memasuki ruangan tersebut, tepat di sisi sebelah kiri pintu masuk ada sebuah papan berbentuk persegi panjang yang di lapisi kertas kanvas lengkap dengan cat nya yang sengaja di sediakan oleh panitia untuk para pengunjung agar mereka bebas menggambar apapun yang mereka mau. Aku berjongkok lalu mengambil kuas kecil dilumuri cat berwarna kuning, orange, dan hijau secara bergantian agar membentuk bunga matahari yang berukuran mini. 

Sebelum berkeliling lagi, aku mengabadikan gambar bunga matahari itu dengan ponselku, sebagai kenang-kenangan. Setelahnya aku kembali berjalan mengitari banyaknya karya sastra ciptaan manusia dengan berbagai makna. Memperhatikannya satu persatu, memahami makna di baliknya yang tertulis pada deskripsi di bawah lukisannya. 

Hingga akhirnya berhenti tepat di depan satu karya yang indah. Salah satu lukisan besar seperti gambar bumi dan angkasa, ada kaligrafi bertuliskan arab, serta ada black hole disana. Yaaa, begitulah gambaran aneh dari diriku yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam menginterpretasikan sebuah lukisan. Tapi percayalah padaku, ini sangatlah indah. “Ini bagus bangettt!” Ucapku kagum. 

“Ini karya siapa, sih? Keren amat dah bisa bikin beginian” Aku ingin sekali menyentuhnya, perpaduan warnanya yang pas, membuatku ingin sekali membawanya pulang. Nyaris saja aku menyentuh kanvas tersebut karena terlewat bagus, suara seseorang mengejutkanku.

“Anda bisa baca nggak mba?” 

 “Eh? B-bisa lah.” jawabku sedikit terkejut. 

Dia menatapku intens “Don't touch! isn't that what it says there?” Aku mengangguk, dia menatapku masih dengan tatapan yang sama, merasa akan di hakimi aku segera menjawab, “Aku nggak sembarang nyentuh kok, Dit. Tadi ada nyamuknya” Alibiku. 

“Untung aja lukisan satu jutaan ini ngga rusak kena tangan kamu.” Ucapnya dengan nada bercanda. “Ih, aku kan ngga sengaja, Dit. Sampai nyentuh aja nggak.” Balasku tak mau terlihat salah. 

Dia terkekeh, “Iya, deh. Jadi sekarang mau lihat lukisan yang mana, Nona Dara?” Aku melihat sekeliling, “Semuanya, Dit. Jelasin juga apa yang kamu tau tentang mereka ya.” Dia mengangguk, “Sebisa ku ya, Ra.” 

Kami berjalan beriringan, melewati berbagai macam ekspresi yang di tuaangkan melalui paint art yang sangat indah. Dia mulai bercerita tentang lukisan yang ada di dalam ruangan persegi yang tak terlalu besar namun nampak pas untuk di jadikan sebuah galeri pameran  ini. Beberapa kali aku mengutarakan isi kepalaku tentang berbagai macam lukisan yang kita temui saat ini. Ya, tentu saja bukan makna yang sebenarnya. Aku adalah aku, orang random yang selalu mengutarakan isi kepalanya yang masih memiliki space kosong dengan apa adanya. 

Hingga kami sampai di depan sebuah lukisan sederhana, yang menarik perhatianku karena sepertinya aku tau siapa yang melukis ini. 

“Dit?” seakan tau maksudku, dia menggeleng. “Bukan punyaku, Ra.” 

Aku menatapnya lekat, “Bohong, aku tau kok ini punyamu.” Jawabku. “Serius Ra bukan punyaku.” Elaknya dengan sedikit gelagapan. 

“Halah, udah nggak usah ngeles. Nih ada nama belakangmu disini.” Ujarku menunjuk sebuah nama kecil di dalam lukisannya Gryxsonza. Dia menggaruk tengkuknya sambil menunjukkan deret giginya yang rapi. “Yah, nggak jadi misterius deh” 

“Kamu ngga bakat jadi orang misterius, Dit.” Ucapku sambil mengamati lukisan tersebut.

“Bu, aku ingin hidupku.” Tertulis kalimat tersebut di dalam deskripsinya. Aku tertegun, lalu memandanginya lekat lekat. 

 “Kenapa, Ra? Jelek ya nggak kayak punya yang lain.” Ujarnya sambil menggaruk tengkuknya. 

“Ini bagus dit, kereeennn. Aku bangga banget kamu bisa ikut memperlihatkan karya kamu di sini, aku yakin pasti banyak yang notic sih.” Dia sedikit tersipu, “Makasih ya, Ra. Tapi aslinya nggak sekeren yang kamu pikirkan, kok.” 

Aku mengangguk, di hiasi senyuman manis saat masih memandangi lukisan tersebut. Tiba-tiba dia menggandeng tangan ku, dan tersenyum saat menatapku. “Keliling lagi yuk, Ra.” 

Sejujurnya hebat sih, aku selalu iri dengan kehidupan seniman yang misterius sekaligus penuh rahasia, dan mereka menyembunyikan semua itu dalam salah satu warna yang ada di karyanya tapi entah yang mana. Aku suka bagaimana Adit selalu menyimak apa yang aku katakan, cara dia memperhatikanku saat berbicara belum pernah ku temui di orang lain. 

Adit begitu hangat, dia selalu mengimbangiku dengan pemikiran pemikiran yang menyenangkan. Tadi juga, selain berkeliling aku yang lebih banyak bertanya tentang hobinya dan bagaimana cara dia membuat lukisan yang indah itu. 

 Dia bilang, “Aku niat buatnya seminggu sebelum acara di mulai, tapi baru dasarnya aku udah paint block, jadi nggak aku lanjut. Semalem baru aku selesaikan karena di paksa sama ketuanya. Nggak nyangka sih bisa selesai sebelum acara di buka. Dan lebih nggak nyangkanya lagi, bisa di notic sama banyak orang, terutama kamu, Ra.” 

Menyelesaikan karya lukisnya hanya dalam waktu semalam, bukankah itu keren? Saat kami masih berkeliling, ternyata ada sisi bagian seni photography.

Banyak jepretan indah yang dipamerkan di sana. Bukan hanya jepretan alam, namun juga kegiatan sehari-hari selayaknya menjadi manusia diabadikan dalam satu jepretan foto yang menawan. 

 “Aku pengen bisa ngelukis.” Kata ku. 

Dia menatapku hangat, “Kamu mah bisa, tadi ikut corat-coret di kain 'kan?” tanya nya. 

Aku mengangguk, lalu merogoh ponsel dan menunjukkan beberapa potret lukisan bunga matahari disana. Dia menyipitkan matanya saat melihat foto di ponselku. “Nah, itu bisa ngelukis.” 

“Bunga matahari doang, Dit. Kecil lagi.” Ucapku. 

“Itu udah bagus, Ra. Sunflower, nggak ada seni yang nggak bagus loh.” Seperti biasa, tutur katanya selalu membuat hatiku berdesir hangat, entah karena apa.

Jepretan demi jepretan kamera panitia dokumentasi menangkap gambar kami beberapa kali. Banyak tawa kami berbincang tentang hal-hal random yang berkaitan dengan benda-benda disini. 

“Dit, kata orang-orang biasanya di balik sebuah karya seni yang menawan itu ada sebuah kejadian yang tragis. Memangnya benar, ya?” Dia tersenyum, “Nggak selalu begitu, tapi beberapa ada yang iya. Ada juga lukisan yang menginterpretasikan hal-hal yang membahagiakan, banyak juga yang based on true love story, or happiness life, and etc.” Ucapnya lembut. 

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku, seolah-olah aku paham. Tapi ternyata hari sudah semakin sore, aku berkali-kali melirik jam tanganku dan berpikir kapan aku akan pulang? Aku lihat adit sedang asyik memainkan ponselnya sendiri, kami jadi terdiam cukup lama. 

“Em, Dit-” ucapanku terpotong saat Adit tiba-tiba berkata. “Pertanyaan lainnya di simpan dulu, ya, Ra. Ini udah makin sore. Dari tadi kamu liatin jam terus, takut kesorean ya pulangnya?” 

 “Hmm… Tapi aku masih pengen di sini, Dit.” 

 “Besok kan bisa kesini lagi, nanti di cariin Ibu loh. Ayo, aku antar sampai depan.” Agak kecewa aslinya, tapi ya sudah lah aku rasa hari ini sudah cukup. 

Bahagia itu sangat sederhana, walaupun hanya dengan berkeliling menikmati suasana pameran dan bercerita tentang banyak hal, hatiku merasa penuh dan hangat. Jadi, bersyukurlah. 

 Dia mengantarku sampai depan Gedung, menghampiri satu tukang ojek yang entah dari kapan sudah disana. “Pulang di antar bapak ini ya. Maaf, aku nggak bisa ngantar kamu, soalnya masih harus bantu panitia yang lain.” 

 Aku mengangguk, “Iya, jangan telat makan ya, Dit.” Dia tersenyum lalu mengangguk. 

 “Pak, hati-hati bawa teman saya ya. jangan ngebut-ngebut, dia limited edition soalnya.” Bapak itu mengangguk dan mengacungkan satu jempol sebagai balasan menyetujuinya. 

 “Hati-hati, kabarin kalau sudah sampai rumah ya.” Ucapnya sambil mengaitkan helm yang sedang ku kenakan. Aku mengangguk lalu melambaikan tangan padanya. 

“Dit, sejauh ini, aku rasa ini sudah terlalu jauh. Kira-kira mau sampai kapan ya?” 



 — Mey

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Her" Mental Breakdown.

Dari Aku Yang Kecil