“Permisi, Kak. Saya mau masuk ke dalam.” Ucapku pada salah satu kakak penjaga
tiket. “Sudah beli tiketnya?” Aku mengangguk lalu menunjukkan tiketku padanya, dia
memberi tanda pada tiketku lalu mempersilakan aku masuk kedalam.
Aku tak berhenti tersenyum ketika memasuki ruangan tersebut, tepat di sisi sebelah
kiri pintu masuk ada sebuah papan berbentuk persegi panjang yang di lapisi kertas kanvas
lengkap dengan cat nya yang sengaja di sediakan oleh panitia untuk para pengunjung agar
mereka bebas menggambar apapun yang mereka mau. Aku berjongkok lalu mengambil kuas
kecil dilumuri cat berwarna kuning, orange, dan hijau secara bergantian agar membentuk
bunga matahari yang berukuran mini.
Sebelum berkeliling lagi, aku mengabadikan gambar
bunga matahari itu dengan ponselku, sebagai kenang-kenangan.
Setelahnya aku kembali berjalan mengitari banyaknya karya sastra ciptaan manusia
dengan berbagai makna. Memperhatikannya satu persatu, memahami makna di baliknya yang
tertulis pada deskripsi di bawah lukisannya.
Hingga akhirnya berhenti tepat di depan satu
karya yang indah.
Salah satu lukisan besar seperti gambar bumi dan angkasa, ada kaligrafi bertuliskan
arab, serta ada black hole disana. Yaaa, begitulah gambaran aneh dari diriku yang sama sekali
tidak memiliki bakat dalam menginterpretasikan sebuah lukisan. Tapi percayalah padaku, ini
sangatlah indah.
“Ini bagus bangettt!” Ucapku kagum.
“Ini karya siapa, sih? Keren amat dah bisa bikin
beginian”
Aku ingin sekali menyentuhnya, perpaduan warnanya yang pas, membuatku ingin
sekali membawanya pulang. Nyaris saja aku menyentuh kanvas tersebut karena terlewat
bagus, suara seseorang mengejutkanku.
“Anda bisa baca nggak mba?”
“Eh? B-bisa lah.” jawabku sedikit terkejut.
Dia menatapku intens “Don't touch! isn't
that what it says there?” Aku mengangguk, dia menatapku masih dengan tatapan yang sama,
merasa akan di hakimi aku segera menjawab, “Aku nggak sembarang nyentuh kok, Dit. Tadi
ada nyamuknya” Alibiku.
“Untung aja lukisan satu jutaan ini ngga rusak kena tangan kamu.” Ucapnya dengan
nada bercanda. “Ih, aku kan ngga sengaja, Dit. Sampai nyentuh aja nggak.” Balasku tak mau
terlihat salah.
Dia terkekeh, “Iya, deh. Jadi sekarang mau lihat lukisan yang mana, Nona
Dara?” Aku melihat sekeliling, “Semuanya, Dit. Jelasin juga apa yang kamu tau tentang
mereka ya.”
Dia mengangguk, “Sebisa ku ya, Ra.”
Kami berjalan beriringan, melewati berbagai
macam ekspresi yang di tuaangkan melalui paint art yang sangat indah. Dia mulai bercerita
tentang lukisan yang ada di dalam ruangan persegi yang tak terlalu besar namun nampak pas
untuk di jadikan sebuah galeri pameran ini.
Beberapa kali aku mengutarakan isi kepalaku tentang berbagai macam lukisan yang
kita temui saat ini. Ya, tentu saja bukan makna yang sebenarnya. Aku adalah aku, orang
random yang selalu mengutarakan isi kepalanya yang masih memiliki space kosong dengan apa adanya.
Hingga kami sampai di depan
sebuah lukisan sederhana, yang menarik perhatianku karena sepertinya aku tau siapa yang
melukis ini.
“Dit?” seakan tau maksudku, dia menggeleng. “Bukan punyaku, Ra.”
Aku
menatapnya lekat, “Bohong, aku tau kok ini punyamu.” Jawabku.
“Serius Ra bukan punyaku.” Elaknya dengan sedikit gelagapan.
“Halah, udah nggak
usah ngeles. Nih ada nama belakangmu disini.” Ujarku menunjuk sebuah nama kecil di
dalam lukisannya Gryxsonza. Dia menggaruk tengkuknya sambil menunjukkan deret
giginya yang rapi. “Yah, nggak jadi misterius deh”
“Kamu ngga bakat jadi orang misterius, Dit.” Ucapku sambil mengamati lukisan
tersebut.
“Bu, aku ingin hidupku.” Tertulis kalimat tersebut di dalam deskripsinya. Aku
tertegun, lalu memandanginya lekat lekat.
“Kenapa, Ra? Jelek ya nggak kayak punya yang lain.” Ujarnya sambil menggaruk
tengkuknya.
“Ini bagus dit, kereeennn. Aku bangga banget kamu bisa ikut memperlihatkan karya
kamu di sini, aku yakin pasti banyak yang notic sih.” Dia sedikit tersipu, “Makasih ya, Ra.
Tapi aslinya nggak sekeren yang kamu pikirkan, kok.”
Aku mengangguk, di hiasi senyuman manis saat masih memandangi lukisan tersebut.
Tiba-tiba dia menggandeng tangan ku, dan tersenyum saat menatapku. “Keliling lagi yuk,
Ra.”
Sejujurnya hebat sih, aku selalu iri dengan kehidupan seniman yang misterius
sekaligus penuh rahasia, dan mereka menyembunyikan semua itu dalam salah satu warna
yang ada di karyanya tapi entah yang mana.
Aku suka bagaimana Adit selalu menyimak apa yang aku katakan, cara dia
memperhatikanku saat berbicara belum pernah ku temui di orang lain.
Adit begitu hangat, dia
selalu mengimbangiku dengan pemikiran pemikiran yang menyenangkan. Tadi juga, selain
berkeliling aku yang lebih banyak bertanya tentang hobinya dan bagaimana cara dia membuat
lukisan yang indah itu.
Dia bilang, “Aku niat buatnya seminggu sebelum acara di mulai, tapi baru dasarnya
aku udah paint block, jadi nggak aku lanjut. Semalem baru aku selesaikan karena di paksa
sama ketuanya. Nggak nyangka sih bisa selesai sebelum acara di buka. Dan lebih nggak
nyangkanya lagi, bisa di notic sama banyak orang, terutama kamu, Ra.”
Menyelesaikan karya lukisnya hanya dalam waktu semalam, bukankah itu keren?
Saat kami masih berkeliling, ternyata ada sisi bagian seni photography.
Banyak
jepretan indah yang dipamerkan di sana. Bukan hanya jepretan alam, namun juga kegiatan
sehari-hari selayaknya menjadi manusia diabadikan dalam satu jepretan foto yang menawan.
“Aku pengen bisa ngelukis.” Kata ku.
Dia menatapku hangat, “Kamu mah bisa, tadi
ikut corat-coret di kain 'kan?” tanya nya.
Aku mengangguk, lalu merogoh ponsel dan menunjukkan beberapa potret lukisan
bunga matahari disana. Dia menyipitkan matanya saat melihat foto di ponselku. “Nah, itu
bisa ngelukis.”
“Bunga matahari doang, Dit. Kecil lagi.” Ucapku.
“Itu udah bagus, Ra. Sunflower, nggak ada seni yang nggak bagus loh.” Seperti biasa,
tutur katanya selalu membuat hatiku berdesir hangat, entah karena apa.
Jepretan demi
jepretan kamera panitia dokumentasi menangkap gambar kami beberapa kali. Banyak tawa
kami berbincang tentang hal-hal random yang berkaitan dengan benda-benda disini.
“Dit, kata orang-orang biasanya di balik sebuah karya seni yang menawan itu ada
sebuah kejadian yang tragis. Memangnya benar, ya?”
Dia tersenyum, “Nggak selalu begitu, tapi beberapa ada yang iya. Ada juga lukisan
yang menginterpretasikan hal-hal yang membahagiakan, banyak juga yang based on true love
story, or happiness life, and etc.” Ucapnya lembut.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku, seolah-olah aku paham. Tapi ternyata hari sudah
semakin sore, aku berkali-kali melirik jam tanganku dan berpikir kapan aku akan pulang?
Aku lihat adit sedang asyik memainkan ponselnya sendiri, kami jadi terdiam cukup
lama.
“Em, Dit-” ucapanku terpotong saat Adit tiba-tiba berkata.
“Pertanyaan lainnya di simpan dulu, ya, Ra. Ini udah makin sore. Dari tadi kamu liatin
jam terus, takut kesorean ya pulangnya?”
“Hmm… Tapi aku masih pengen di sini, Dit.”
“Besok kan bisa kesini lagi, nanti di cariin Ibu loh. Ayo, aku antar sampai depan.”
Agak kecewa aslinya, tapi ya sudah lah aku rasa hari ini sudah cukup.
Bahagia itu
sangat sederhana, walaupun hanya dengan berkeliling menikmati suasana pameran dan
bercerita tentang banyak hal, hatiku merasa penuh dan hangat. Jadi, bersyukurlah.
Dia mengantarku sampai depan Gedung, menghampiri satu tukang ojek yang entah
dari kapan sudah disana. “Pulang di antar bapak ini ya. Maaf, aku nggak bisa ngantar kamu,
soalnya masih harus bantu panitia yang lain.”
Aku mengangguk, “Iya, jangan telat makan ya, Dit.” Dia tersenyum lalu mengangguk.
“Pak, hati-hati bawa teman saya ya. jangan ngebut-ngebut, dia limited edition soalnya.” Bapak itu mengangguk dan mengacungkan satu jempol sebagai balasan
menyetujuinya.
“Hati-hati, kabarin kalau sudah sampai rumah ya.” Ucapnya sambil mengaitkan helm
yang sedang ku kenakan. Aku mengangguk lalu melambaikan tangan padanya.
“Dit, sejauh
ini, aku rasa ini sudah terlalu jauh. Kira-kira mau sampai kapan ya?”
— Mey
Komentar
Posting Komentar