"Her" Mental Breakdown.

Hari hari berlalu semakin kelabu, mendung selalu merayu disaat hilal honor masih abu-abu. Perasaan Kinan tak menentu, berkecamuk dengan rasa lelahnya mengurus pekerjaan yang sudah menumpuk selama seminggu. Ingin rasanya mengeluh, tetapi bukankah hal ini sudah ia dambakan bertahun-tahun yang lalu? 

"Nan, udah tanda tangan belum?" Tanya Mbak Asri yang sedari tadi melihat Kinan gusar di depan meja kerja.

"Tanda tangan apa mbak?" Dia pura-pura tidak tahu saja, padahal sedari tadi dia melihat banyak sekali rekan kerjanya wira-wiri ke ruangan sebelah untuk menandatangani diatas selembar kertas kemudian saat kembali mereka menggenggam satu amplop putih yang entah apa isinya, tetapi bisa dilihat dengan jelas raut wajah mereka menjadi terlihat sedikit berseri. 

Mbak Asri menunjukkan amplop putih di tangannya, "Ini, sana, tadi aku lihat namamu." Ujarnya

Kinan terlihat sedikit terkejut, "Aku dapet juga mbak?" Mbak Asri mengangguk, lalu menyuruhnya segera kesana dengan kode dari tangannya. 

Aku menuju kesana dengan langkah pelan, dan mengetuk pintu sebelum masuk. Sebelum melangkahkan kaki, Kinan melihat ada Bu Ratna disana. Dia tersenyum saat melihat Kinan, "Oh iya, saya hampir lupa. Sini Kinan, tanda tangan." 

Kinan tersenyum kikuk, segera melangkahkan kaki untuk menandatangani namanya. Setelah selesai Kinan terdiam, lalu bersuara "Em.. Kinan dapat juga ya bu?"

Bu Ratna yang sedari tadi sibuk menata selembaran kertas menjawab, "Dapat dong, maaf ya tapi punya kamu belum saya masukkan amplop, tunggu sebentar ya." 

Kinan hanya mengangguk pelan. Sepersekian menit berikutnya, Kinan menerima amplop itu dengan senang hati. "Wah, ini honor pertama, yang tidak akan pernah aku lupakan." Batinnya. 

Lalu Kinan berpamitan kembali ke meja kerjanya, dengan suasana hati yang sedikit membaik. Dia mengintip ke dalam amplop putih tersebut, setelah dihitung, jumlahnya memang tidak banyak. Tapi dia tetap merasa senang. Jadi dia bisa membelikan air kelapa muda murni untuk ibunya yang sedang kurang sehat.

"Mbak, ini honor untuk apa? Kan honoran nanti akhir bulan." Tanya Kinan pada Mbak Asri.

Beliau menjawab, "Iya betul, ini honor jadi pengawas."

Kinan mengangguk mengerti, lalu melanjutkan pekerjaannya hingga jam kerja selesai. 

Pukul 13.30 WIB, jam kerjanya selesai, Kinan hendak mencari penjual kelapa muda untuk ia bawa kerumah karena kemarin ia sudah berjanji pada ibunya.

Hati Kinan sudah membaik, tetapi tidak dengan cuaca di bumi. Dia berasumsi kalau sebentar lagi akan turun hujan. Berkeliling kecamatan dengan menunggangi motor mio biru keluaran tahun 2010 kesayangannya itu tidak membuat Kinan menggerutu kesal. 

Sesuai asumsinya, di depan sana sudah terlihat rintik hujan menghantam jalanan, dia dengan cepat menepikan motornya, lalu mengenakan mantel biru kebesaran milih kakak laki-lakinya. Lalu kembali menerjang derasnya hujan. 

Di pertigaan depan, Kinan melihat ada penjual kelapa muda murni, ia bergegas menghampirinya dan membeli 2 kelapa sekaligus. "Ibu pasti senang, semoga setelah minum kelapa muda jadi lebih segar dan sehat lagi" ucap Kinan pelan sembari tersenyum lebar.

Dua bungkus kelapa muda tersebut Kinan bawa dengan hati yang senang, meskipun diterpa hujan sepanjang jalan dia siap menampilkan senyum lebarnya ketika tiba dirumah.

Perjalanan kerumah membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit karena hujan, ia membawa pelan laju motornya. Tak disangka, dirumah mereka juga hujan deras, disertai petir menggelegar sesekali. Sedikit merasa takut saat diperjalanan, tetapi tetap Kinan terobos sampai rumah.

Sampai rumah, Kinan memarkirkan motornya di samping, dan masuk melalui pintu belakang, membuka pintu rumah dengan senang hati, dan melihat Ibu serta adiknya sedang makan, Kinan langsung memancarkan cengiran khas nya sembari menunjukkan seplastik isi dua kantong kelapa muda.

"Hujan-hujan begini malah bawa kelapa muda, gak cocok sama cuaca. Mantelnya dibuka diluar aja, nanti rumahnya basah" Ujar sang ibu dengan nada yang sangat tidak enak di dengar oleh anaknya yang baru saja pulang kerja, keadannya basah kuyup karena kehujanan sepanjang jalan demi menepati omongannya kemarin malam pada ibunya.

Kinan hanya mematung. "Tidak, ini bukan respon yang aku bayangkan. Aku kira, ibu akan senang. Aku kira, ibu akan datang menghampiriku dengan membawakan ku handuk karena khawatir anaknya sakit. Aku kira, ibu akan menerima kantung plastik itu dengan senang hati. Aku kira... Ibu mungkin lupa, ya...." Batinnya berteriak, semua perkiraan Kinan meleset.  

Kinan meletakkan kembali kantung plastik itu di motornya. Dia melepas mantelnya diluar, diam tak bersuara. Kantung plastik berisi kelapa muda murni yang tulus ia belikan untuk ibunya ia letakkan begitu saja diatas meja. Lalu buru-buru masuk kedalam kamarnya.

Dia berganti pakaian dengan perasaan hampa, hatinya pelan pelan tergores saat mengingat perkataan tersebut keluar disaat yang tidak tepat.
Bagi sebagian orang mungkin mengira ini adalah reaksi yang berlebihan. Tapi coba posisikan dirimu sebagai Kinan saat itu, sepertinya... ini adalah reaksi yang wajar.

Dia menangis dalam diam di kamar, bermonolog menyalahkan dirinya karena membelikan janjinya pada ibunya, dan menyesal kenapa tadi tidak membeli sesuatu yang hangat saja untuk mereka. Kinan menyesal karena pulang kerumah.

Kejadian seperti ini bukan hanya kali ini, hampir setiap Kinan pergi, lalu ketika pulang membawakan makanan atau minuman pasti akan dikomentari dengan hal yang tidak mengenakkan. Karena saat itu Kinan tidak punya uang, hanya mampu membelikan makanan murah yang menurutnya cukup enak dan layak dimakan. 

Saat itu Kinan hanya diam, dan rasa kesalnya selalu tertahan. Sekarang Kinan sudah bekerja, ingin membelikan sesuatu yang mereka butuhkan. Sesepele air kelapa muda untuk membantu detox tubuh ibunya yang sedang kurang sehat kala itu, membuat Kinan menyesal. Ternyata hal itu malah memicu kembali luka-luka yang telah lama berusaha Kinan lupakan. 

Disaat seperti ini, Kinan hanya bisa menangis dan bertanya, entah kepada siapa....
"Apa semua orang gak bisa ya mengapresiasiku terlebih dulu? Sedikit saja." 


—manusiakeju; poor baby, wounds that are always hidden will open when the trigger returns.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

An Art Galery #1

Dari Aku Yang Kecil