Dari Aku Yang Kecil
Hai, selamat malam teman-teman!
Bagaimana kabar kalian? Sudah lama rasanya kita tidak bercengkrama melalui media ini.
Everything goes well? Semoga selalu well ya….
Anyway, happy reading!
—————
Dari Aku Yang Kecil.
Awal tahun 2025 ini, aku ditakdirkan untuk membersamai suatu sekolah untuk ‘simulasi mengajar’ selama hampir dua bulan. Sedari awal aku memang selalu menantikan momen ini, akhirnya tiba ketika aku sudah menginjak semester enam. Walau masih simulasi, aku harus dan akan tetap melakukannya dengan baik.
Sejujurnya, dibalik penantian panjangku mengenai momen ini, banyak juga kekhawatiran yang menyelimuti. Dengan minimnya ilmu yang aku punya, aku takut masuk ke lingkungan sekolahan lagi, apalagi harus mengajar disana.
Bagaimana jika siswanya tidak menyambutku dengan ekspresi yang ku harapkan?
Bagaimana jika aku tidak memenuhi ekspektasi dari para pengajar disana?
Bagaimana jika ilmu yang ku punya lebih sedikit dibandingkan dengan siswaku nanti?
Dan, bagaimana bagaimana yang lainnya. Aku sangat takut waktu itu. Aku selalu bercerita pada ibuku di telepon tentang kekhawatiran ku, dan berakhir selalu memintanya untuk mendoakan ku. Setiap kali aku memintanya berdoa untuk anaknya, beliau menjawab “Pasti, setiap waktu ibu selalu doakan anak-anak ibu.”
Aku selalu ingin menangis ketika mendengar ibuku berdoa dengan lembut dan penuh kasih, katanya begini. “Ibu selalu berdoa sama Gusti Allah, supaya anak-anak ibu selalu dilindungi, selalu diluaskan hatinya, dicerdaskan pikirannya. Ibu ridho, nduk. Ibu meridhoi apa yang jadi keinginan anak-anak ibu yang baik untuk hidup dan akhiratnya. Kalau ibu sudah ridho, nanti Gusti Allah juga akan ridho sama anak-anak ibu.”
Akhir-akhir ini, aku memanifestasikan beberapa hal yang sama saat berbincang dengan ibu. Aku juga selalu request doa supaya aku diberi sekolah yang gurunya mau membimbingku dengan sabar, siswanya manut, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Dan beliau selalu menambahkan request-an itu tanpa berat hati.
Goosebump! Saat pengumuman pemetaan sekolah, aku sangat terkejut. Rasanya seperti mimpi. Sekolahnya bukanlah sekolah favorit yang letaknya di dekat perkotaan, sekolah yang berada di pedesaan dan siswanya tidak terlalu banyak, jarak tempuhnya juga dekat hanya sekitar 20 menit dari tempat tinggalku.
Spesifikasinya sama seperti doa ibuku, kan?
Saat pertama kali mengunjungi sekolah dengan teman kelompokku, sempat takut kepala sekolahnya galak, namun di luar ekspektasi kita semua. Beliau merupakan seorang guru yang luar biasa hebatnya, luar biasa baiknya, luar biasa cantiknya.
Beliau didampingi para guru yang lain, menyambut kami dengan tangan terbuka. Sangat baik sekali, membimbing kami dengan lembut namun tetap sedikit tegas. Beliau menerangkan aturan apa saja yang ada di sekolah ini, juga kegiatan pembiasaannya yang sangat luar biasa.
Di hari pertama yang Alhamdulillah cuacanya cerah sekali, atas izin Allah melalui ibu kepala sekolah aku ditugaskan untuk menyampaikan materi kultum singkat setelah pelaksanaan pembiasaan sholat dhuha berjamaah.
Membawakan materi kultum singkat sembari memperkenalkan diri dengan kalimat “Saya akan sangat senang jika anda semua bersedia memanggil saya dengan sebutan Madam.” pagi itu berjalan dengan sangat baik. Meski beberapa anak ada yang rewel, ya nggak papa. Namanya juga masih anak-anak.
Jadi teringat, beberapa waktu lalu sebelum simulasi mengajar dilakukan, ibuku pernah meminta agar aku rajin menunaikan sholat dhuha meskipun hanya dua rakaat saja. Namun sampai saat itu aku masih jarang menunaikannya. Aku jadi berpikir, setelah tahu disekolah ini ada pembiasaan melaksanakan sholat dhuha berjamaah, apa ini juga…
Seperti yang ibu doakan lagi, ya? Hehehe…
Lalu teman-teman…
Dari aku yang kecil ini, siapakah aku tanpa Tuhanku?
Siapakah aku tanpa doa dan usaha orang tuaku?
Siapakah aku tanpa doa guruku?
Siapakah aku tanpa doa dan usaha sebisaku?
— Madam M.
Komentar
Posting Komentar