Forelsket.

Forelsket.

Forelsket; (n) The éuphoria you experience when first falling in love; Euforia yang kamu alami saat pertama kali jatuh cinta.



Sore hari duduk di bangku taman dibawah jembatan jalan baru yang menyejukkan. Aku dan Rae duduk bersampingan, sesekali kami saling lirik satu sama lain. Gemricik air sungai yang mengalir di tepi kiri nya menjadi backsound yang menenangkan. Hingga salah satu dari kami membuka suara, Aku, orang itu aku yang ingin mengutarakan hal yang sebenarnya sedari tadi mengganggu dalam benakku.

“Rae, maafin aku ya. Harusnya aku udah paham kamu. Tapi entah kenapa perkataan temen kamu yang itu bikin aku ngga bisa berpikir jernih dan ngga nyaman banget. Aku jadi kebawa emosi.” aku mengatakan hal tersebut sambil menyerongkan tubuhku menghadap Rae lalu sedikit menunduk.

Kemarin, kami sempat bertengkar hebat untuk yang kesekian kalinya. Di saat seperti itu, aku merasa sangat tidak nyaman dan merasa takut kalai kami akan saling menyerah begitu saja. Lagi lagi tentang kesalah pahaman, kurangnya komunikasi dan minus understanding each other.

Dalam benakku sendiri sempat terbesit mengenai kemungkinan hal-hal buruk yang akan terjadi. Entah kami akan menyerah satu sama lain, atau hanya salah satu dari kami yang memang sudah tidak memiliki niat untuk saling memaafkan (lagi).

Rae tersenyum tipis, “Ngga papa, Na. Aku yang salah sih kemarin ngga ngabarin kamu.”

“Lain kali tolong bilang dulu ke aku, bisa? Aku ngga mau uring-uringan kaya kemarin terus. Rasanya ngga enak banget.” aku sedikit memohon, tanpa memaksa.

“Iya, Berliana. Maaf ya.” Ucapnya sambil mengusap surai rambutku dengan lembut. 

Kami tersenyum satu sama lain, di dalam hati aku selalu bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan karena sudah menghadirkan lelaki sesabar Rae. Meskipun terkadang menyebalkan, tapi saat ada Rae, aku merasa lengkap.

Tiba-tiba dia bersuara dengan pertanyaan yang sedikit mengejutkan. “Na, kenapa kamu mau sama aku?”.

Sejujurnya, aku takut salah bicara. Banyak hal yang membuatku jatuh cinta padanya. Selain aku suka wajahnya yang tampan, aku juga sangat menyukai kepribadiannya. Bagaimana dia mencintai dan melindungi keluarganya, saat dia bersam dengan ibu dan adik perempuannya, aku sangat menyukainya. Meski manusia memang tidak ada yang sempurna, tapi kalau kita sudah merasa cukup, kita akan selalu beryukur dengan apa yang kita miliki. 

“Karena aku yakin. Yakin kalo kita bisa selalu menguatkan.” 
Dia tersenyum lagi, membuatku sedikit malu. Senyumnya manis sekali. “Padahal kamu yang selalu menguatkan kita, Na.”

“Mending kamu stop ngomong sama stop senyum deh! Aku malu tau!” aku memalingkan wajah kearah lain.
Dia malah tertawa, “Loh, kenapa? Aku ngomong fakta loh itu”

“Ya ngga. Kita emang seharusnya selalu saling menguatkan, Rae. Kalo kamu gimana? Kenapa mau sama aku?”

Dia berdehem, “Yakin nih harus aku jawab?”

“Ya iya dong! Curang kalo nggak mau jawab.”

“Emm, apa ya? Banyak yang bikin aku suka sama kamu. Tapi aku paling suka karena kamu mau aku apa adanya. Harus tumbuh bersama ya Na.” Jawabnya.

Aku tersenyum kepadanya, memegang erat tangannya. “Ya. Ayo bangkit dan tumbuh bersama, Rae. Beberapa tahun kedepan kita harus jadi yang apa aja ada bukan cuman mengandalkan apa adanya lagi.”

“Iya, aamiin. Terima kasih sudah selalu menerima semua bentuk sayangku, Berliana.” ucapnya tulus.
“Terima kasih juga sudah selalu menyayangiku dengan jumlah yang tidak terbilang, Raefal.”

Ada seseorang yang bilang padaku bahwa, terkadang, jatuh cinta adalah seni untuk menyederhanakan pikiran. Di tengah kerumitan dunia, akan ada satu orang yang secara cuma-cuma menawarkan hal-hal sederhana padamu untuk diseduh dengan tenang. Seperti saat menyeduh kopi, walaupun kadang airnya terlalu panas hingga membuat lidah terbakar jika diteguk langsung, tetapi sisanya tetap tidak boleh langsung dibuang. Karena masih bisa ditiup dan ditunggu sampai menghangat dengan kesabaran.

Juga, kata orang, di dalam sebuah hubungan cinta tak selamanya ada, tetapi saling menguatkan akan membuatnya bertahan lama. 





Bersambung.

—Unfinedable Feelings.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Her" Mental Breakdown.

An Art Galery #1

Dari Aku Yang Kecil