Everything Looks Different

 Aku termenung di bawah lampu temaram, di temani oleh seorang teman yang selalu sedia meluruskan. Dalam diam kami terduduk dengan pikiran masing-masing, dia yang entah memikirkan apa dan aku yang sedang memikirkan hal menakutkan seperti 'cinta'.

"Ra, lo mau gue bawa ke dukun?" sebuah pertanyaan tidak masuk akal yang terlontar dari bibir tipis seorang gadis bernama Naya.

Aku menarik napas panjang, "Buat apa ke dukun? Gue nggak butuh dukun, Nay. Yang gue butuh cuman Ilham sekarang." Dia terlihat geram, "Nah ini nih yang bikin gue sampai mau bawa lo ke dukun.Gue itu mau ngecek pelet apa soh yang di pakai sama Si Ilham sampai lo seginnya sama dia."

Aku terkekeh hambar, "No,itu  nggak perlu. Ilham nggak pakai pelet apapun, okay? Gue juga nggak tau bisa sampai sesuka ini gue sama dia, sampai-sampai gue seakan nggak punya alasan buat nggak mikirin dia, Nay."

Kini Naya tengah menatapku intens, aku tak menatapnya dan masih terfokus ke satu arah. "Oke, Ra. Gue bikin lo punya alasan, Lo sama Ilham itu apa? Yang lo bicarain selama ini tentang kalian itu sebenernya apa?"

Sial, aku berhasil bi buat bungkam. "Coba lo pikirin baik-baik, lo seakan nggak mau kehilangan dia tapi apa lo yakin dia juga ngerasain hal yang sama kayak lo? Memangnya lo yakin kalau lo itu satu-satunya buat dia? Lo bisa menjamin kalau dia nggak lagi deket sama cewe lain selain lo? Apa yang bikin lo seyakin itu, Ra ...." Sial banget Nay, lo nikin gue nangis. aku sudah menangis sesenggukan sedari Naya mulai berbicara.

Naya memegang lembut tanganku, dia berkata dengan sangat lembut. "Remember this; mungkin selama ini hanya lo yang merasa, sedangkan dia memang tak pernah punya rasa."


 cr; manusiakeju.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Her" Mental Breakdown.

An Art Galery #1

Dari Aku Yang Kecil